Sabtu, 27 Oktober 2012

Pertemuan yang Sangat Indah


Dia hanya dia di duniaku, dia hanya dia dimataku. Dunia telah terasa hilang tanpa ada dia dihidupku. Sungguh sebuah tanya yang terindah bagaimana dia merenggu sang waktu. Tak perlu ku mimpi yang indah karna ada dia dihidupku. Senyum dari bibirnya yang tipis itu mampu membuatku terpesona dalam sekejap. Tatapan matanya penuh kehangatan, walau ini baru pertama kalinya aku bertemu dengannya namun entah mengapa aku bisa merasakan kehangatan itu. Apa yang dinamakan perasaan jatuh cinta? Entahlah aku tak dapat mendeskripsikan perasaanku sendiri, aku masih sibuk dalam pikiranku yang mengartikan perasaanku ini. Bagaimana bisa secepat ini aku jatuh cinta pada dia.
Dia masih sibuk dengan kameranya sendiri, sedangkan aku masih sibuk menatapnya. Oh Tuhan aku beruntung sekali dapat dipertemukan oleh ciptaanMu yang satu ini. Namun beberapa saat kemudian dia menoleh kearah diriku, aku seolah menjadi salah tingkah dihadapannya. Aku berpura-pura mencari kesibukkan dan aku sempat melirik dirinya yang sedang tersenyum menunduk malu. Namun tak lama kemudian da beranjak pergi meninggalkan tempat duduknya, entah pergi kemana. Namun setelah berada diambang pintu ia menoleh kearah diriku dan tersenyum dan dia berhasil membuat diriku melayang. Tapi ketika aku melihat ke tempat duduk yang dia duduk tadi, aku melihat ada sebuah barang yang tertinggal dan aku membalik sebuah barang itu dan melihat sebuah nama pemiliknya yang bernama Ardi. Aku berkata dalam hati oh laki-laki itu bernama Ardi, laki-laki yang memiliki senyum yang sangat terpesona. Aku tanpa berpikir panjang, aku segera berlari mengikuti dia. Aku melihat kekanan dan kekiri namun tak ku temukan sosok itu. Sampai aku melihat sosok laki-laki dari belakang yang memakai jaket berwarna merah. Da aku merasa gugup untuk menghampiri dia. Tanpa sadar tangan kananku menepuk pundaknya dan dia menatapku dengan tatapan lembut. Oh Tuhan mengapa rasanya diriku gugup sekali. Dan tanganku menyerahlan barang itu sambil tersenyum, dia membalas senyumku dan berkata terima kasih banyak. Dan aku hanya dapat membalasnya dengan tersenyum, aku merasa tak bisa mengucap satu katapun, dan mulai melangkah pergi menjauh darinya. Sungguh kejadian hari ini sangat membuatku senang. Semoga suatu saat nanti kau dan aku dapat berjumpa kembali. Dan semoga kau membaca entriku yang ini. Aku akan selalu menunggumu……Ardi :)

Rabu, 24 Oktober 2012

Kenyataan


Sedih itu disaat ketika ibumu telah menuduh yang tidak-tidak tentang dirimu. Aku tak mengerti mengapa ibuku segitu tega memikirkan diriku yang negatif? Mengapa aku selalu salah dimatanya? Aku juga manusia biasa, aku mempunyai perasaan.. orang mana yang tidak sakit hati bila dituduh oleh orang tuanya sendiri? Ibu adalah manusia yang paling aku sayangi dan sangat berarti untukku, tapi mengapa ibu tega menuduh darah dagingnya sendiri? Kadangku merasa adanya ketidak adilan ibu dalam menyayangi diriku dan kembaranku, karena ibu hanya memanjakan kembaranku. Namun aku tak mau negative thinking kepada orang yang aku sayangi, tapi mengapa ibu selalu berfikiran negatif kepadaku? Kadang aku sempat berfikir apa aku anak kandung ibu atau hanya anak pungut? Aku ini memang kaka, tapi aku juga perlu dimanja bu. Dari kecil aku cukup bersabar, karena dimasa kecilku aku tau, aku hanya diberi ASI  3 bulan sedangkan kembaranku? Lebih dari satu tahun. Ibu tau bagaimana jadi diriku ini? Aku terkadang iri kepada kembaranku, karena dia lebih dimanja oleh ibu, lebih dibanggakan oleh ibu.

Ketika suatu hari ada seorang laki-laki yang berkata “mana ada ibu yang enggak sayang sama anaknya sendiri?” aku masih ingat ucapan itu, ucapan dari seseorang yang aku sayangi. Tapi kenapa saat aku sedang membutuhkan dirinya namun dia sudah tak berada disampingku saat ini. Lalu siapa yang memberiku semangat? Siapa yang menghiburku saat kesedihan melanda diriku seperti malam ini? Sungguh aku sangat merasakan kesepian, mungkin dengan cara aku menulis rangkaian kata disini, aku dapat menghilangkan sedikit rasa sedihku saat ini..

Sabtu, 20 Oktober 2012

Melihat Dia (lagi)


Tepat hari, aku tak menyangka dapat melihat dia kembali setelah enam bulan yang lalu, memang tak banyak yang berubah darinya, warna kulitnya masih sama seperti enam bulan yang lalu hanya tata rambutnya yang sedikit berubah. Meskipun aku tak banyak mengerti tentang model rambut laki-laki namun ku yakin model rambut dia sudah berbeda. Aku tertegun setelah melihat wajah yang sedang memandangiku, memang jarak ketika itu tidak terlalu dekat, aku sempat berpikir siapa yang sedang memperhatikanku sambil tersenyum saat itu. Ketika ku melihat dia, ternyata seorang pria yang dulu pernah mengisi ruang hatiku, saat itu aku hanya dapat menunduk malu karena telah banyak berubah dari diriku, ya memang rambutku masih ikal seperti enam bulan yang lalu, namun wajahku…sudah berubah, wajahku kini dipenuhi oleh bekas jerawat yang berwarna kecoklatan..
Ketika kulihat senyum khas dari bibirnya itu, aku merasa jantungku berhenti berdebar sangat keras, aku tak mengerti mengapa aku sangat merindukan senyuman yang khas dri dirinya. Sayangnya aku hanya menunduk malu tak berani menatap muka dan senyumannya itu. Namun setelah ku berjalan beberapa langkah terdengar ada seseorang memanggil namaku. Suara khas itu yang memanggil diriku, ternyata memori otakku masih menyimpan segala tentang dirinya. Aku tak berani menoleh kea rah dirinya, namun aku yakin dia yang memanggilku. Setelah aku cukup melangkah jauh aku tak mendengar suara itu lagi, aku tak dapat menoleh kea rah dirinya kembali karena saat itu keadaan sedang ramai di penuhi oleh orang-orang yang akan keluar dari tempat itu. Dan akhirnya aku kehilangan dia kembali, namun diriku sudah cuup puas sudah dapat melihat wajahnya kembali, betapa rindunya ku dengan senyum tipisnya itu yang membuat hatiku bergetar. Dan kuharap dapat melihatnya suatu saat nanti ketika wajahku sudah kembali seperti waktu dulu. Hanya itu harapanku saat ini…

Kamis, 18 Oktober 2012

Mengharapkan


Hari demi hari ku lewati dengan sendiri, entah apa yang ku cari saat ini. Aku membisu dalam kesendirian, entah apa yang akan kulakukan saat ini. Diriku bagai patung yang membeku dalam kesunyian, apa aku merasakan kesepian? Entahlah perasaanku tak menentu aku sendiri saja tak mengerti apa yang kurasakan. Namun kini ku hanya ingin bersama dia, dia yang dapat membuatku tersenyum kembali, dia yang mampu membuatku merasakan kebahagiaan, dan dia yang mampu membuat keceriaanku kembali lagi.

Tapi apa harapanku begitu besar? Aku hanya cukup bersama dia, apa dia tak pernah peka apa yang kurasakan saat bersama dia? Mungkin hatinya terbuat oleh baja sehingga tak pernah terangsang oleh perasaan ku ini. Mengapa dia tak pernah sadar jika aku sering memperhatikan dia secara diam-diam? Apa aku yang terlalu berharap dia dapat peka terhadapku? Aku harus menerima kenyataan jika dia hanya mencintai sahabatku BUKAN diriku. Ketika dia menyatakan perasaannya terhadap sahabatku sendiri, aku menangis sejadi-jadinya, aku terpuruk dalam luka yang begitu dalam. Ya memang bukan seutuhnya dia dan sahabatku bersalah, hanyalah aku yang terlalu bodoh! Aku mengharapkanya terlalu dalam, aku tak pernah menyadar bahwa dia tak akan pernah bisa mencintaiku….