Aku
mengambil nafas panjang dengan putus asa, entah apa yang sedang membebani
pikiran dalam otakku. Mungkin akibat masa lalu, ya benar! Masa lalu entah
mengapa terlalu sulit untuk aku lupakan, aku bingung bertanya pada hatiku
sendiri apa manfaat mengingat masa lalu? Hanya menghabiskan tisu saja walaupun
ku tahu begitu namun tetep saja masa lalu itu sepertinya tak ingin pergi dari
otakku. Aku seperti orang bodoh yang seharusnya diperiksa kejiwaannya oleh
psikolog bisa saja aku terkena penyakit “susah move on”. Aku terkejut ketika
seseorang menepuk mungkin lebih tepatnya memukul pundakku hingga aku tersadar
dari lamunan masa lalu.
“woy kok ngelamun? Pasti lagi mengingat
masa lalu ya?” tanya Nata sambil meledek
Nata memang merupakan salah satu
sahabatku, dia itu sikapnya susah ditebak tergantung mood kadang ngeselin tapi
dia juga salah satu orang pembawa keceriaan bagiku.
“apaan sih Nat? Dateng-dateng bikin
orang jantungan, emangnya gak ada kerjaan lain selain bikin jantungan orang?”
jawabku dengan emosi
“maaf gy. Tapi, aku ngagetin kamu itu
ada hikmahnya” jawab Nata sambil nyengar-nyegir
“hikmah apaan sih? Gak ada! Adanya
bikin bahaya, bikin aku jantungan tau!” jawabku ketus
“ada kok hikmahnya, coba kamu lihat,
kamu udah ngabisin berapa tisu? Berapa banyak pohon yang ditebang buat jadi
tisu yang kamu buang ini? Aku ngagetin kamu itu buat bumi bukan buat kamu,
makanya jadi orang jangan ke-GR-an!” jawab Nata lebih meledek
“tau ah Nata ngeselin!” jawabku sambil membuang
pandangan dari Nata
“jangan marah Kuggy, aku cuma gak mau
kamu masih tenggelam di masa lalu kamu, aku cuma merasa kehilangan kamu yang
dulu. Hei Kuggy yang dulu ku kenal bukan seperti ini. Kuggy yang ku kenal
selalu riang beda sama yang sekarang” ucap Nata dengan sedih
“setiap orang gak selamanya selalu
bahagia, ada kalanya sedih Nat” jawabku
“iya aku tau kok, tapi emangnya kamu
mau tenggekam dalam keterpurukan kayak gini? Emang dia masih mikirin kamu?
Jangankan mikirin mungkin dia udah gak inget lagi sama kamu” jawab Nata dengan
cuek
“iya benar juga ucapan kamu Nat, oke
bakal lupain dia! Bantuin aku ya?” jawabku dengan penuh semangat
“bantuin apa?” ucap Nata
“bantuin move on lah Nata!” jawabku
dengan geregetan
“oh iya iya sip.” ucap Nata sambil
tertawa
***
Aku
terbangun dari tidur cantikku langsung ku cari handphone yang terselip dibawah
bantal, sepertinya sudah menjadi rutinitasku
setiap bangun tidur pasti yang pertama kali kucari yaitu handphone.
Ternyata ada 10 pesan masuk :
“ From : Nata
Selamat pagi putri manja gak berubah ya
dari dulu sampai sekarang setiap bangun tidur pasti langsung meriksa handphone.
Aku cuma mau bilang pokoknya mulai detik ini kamu harus jadi Kuggy yang dulu
yang selalu ceria titik! Sengaja aku kirim SMS sebanyak ini buat kamu, supaya
kamu tau kalau aku kangen sekali sama kamu yang dulu. Pokoknya nanti pas aku
jemput udah harus siap! Dadah sampai ketemu nanti J.”
***
Terdengar suara keras klakson dari
depan pagar. Kubuka pintu rumah ku dan ternyata Nata, dia gak bohong kalau dia
bakal jemput aku.
“selamat pagi putri manja” ucap Nata
sambil meledek
“selamat pagi juga sopir” balasku
sambil tertawa
“nah gitu dong ceria lagi” ujar Nata
sambil mengusap rambutku dengan lembut
“Nat bantuin aku editin tugas film
bahasa Indonesia dong” ucapku memohon
“emangnya berani bayar berapa? Haha
bercanda, iya nanti pulang sekolah aku kerumah kamu deh” jawab Nata
“sip makasih Nata” ucapku sambil
tersenyum riang
Meski Nata dan Kuggy berbeda sekolah
karena Nata lebih memilih SMK sedangkan Kuggy lebih memilih SMA namun sekolah
mereka hanya bersampingan saja.
“tuh udah sampai sekolahan kamu gy”
ucap Nata
“iya makasih ya Nat, oh iya kayaknya
aku bakal pulang duluan nanti enggak apa-apa kan Nat? jawabku
“iya enggak apa-apa kok gy, tapi kamu
tungguin dirumah ya!” jawab Nata sambil melambaikan tangan
***
“Kuggy!” panggil Nata sambil mengetok
pintu rumah Kuggy
“iya bentar jangan bawel!” teriakku
Aku terburu-buru menuruni tangga itu
namun karena salah satu kelemahanku ceroboh, hingga aku terjatuh dari tangga
tersebut. Nata yang mendengar suara jatuh langsung membuka pintu rumah Kuggy
dan benar saja dia menemukan Kuggy sedang meringis kesakitan.
“Kuggy! Kok bisa jatuh sih?” ucap Nata
panik
“ih aku tadi ceroboh Nat, hehe” jawabku
bercanda meski aku masih merasa sangat sakit
Namun ternyata ada sebuah uluran tangan
ya membantuku untuk berdiri, ku kira itu tangan Nata saat aku menengok
kesamping ternyata itu bukan Nata tapi entah siapa itu karena aku belum pernah bertemu
dengannya. Aku tertunduk entah apa yang aku rasakan saat itu, rasanya
bercampur-campur.
“Kuggy kenalin dia temen aku “ ucap
Nata sambil menunjuk orang disampingnya
“hai namaku Alvian Aldo Prakasa”
ucapnya sambil menjulurkan tangannya
“hai juga nama aku Kuggy Tiaza Sagita”
ujarku dengan membalas uluran tangannya dan mencoba memberikan senyuman paling
manis yang ku punya
“panggil aja Vian ya” balas Vian
“Enggak percuma ya kalau tadi aku jatuh
dari tangga tapi ada malaikat penyelamat yang gantengnya maksimal kayak Vian
haha” ucapku riang dalam hati
“gy mana film
yang mau dieditin?” Tanya Nata membangunkan aku dari lamunan
“tuh ada di ruang keluarga laptopnya,
ayo kesana aja” jawabku
Aduh ya Tuhan enggak sanggup kalau
berhadapan sama Vian yang gantengnya maksimal kayak gini. Ini mah surga dunia
banget buatku. Diam-diam aku mencoba mengambil kesempatan untuk melirik Vian.
Apakah ini namanya? Entahlah aku sendiri bingung.
***
Aku lebih sering mengisi waktu kosong
ku dengan menulis cerita, rasanya menulis itu lebih dapat menuangkan apa yang
ada dalam jiwa dan hatiku tanpa ada komenan, lalu ku coba menulis diatas kertas
putih kosong
“ 15 April 2013
Rasanya semua terjadi begitu cepat,
kita berkenalan lalu tiba-tiba merasakan perasaan aneh. Setiap hari rasanya
berbeda dan tak lagi sama. Kamu hadir membawa banyak perubahan dalam
hari-hariku. Hitam dan putih menjadi lebih berwarna ketika sosokmu hadir
mengisi ruang-ruang kosong dihatiku. Tak ada percakapan yang biasa, seakan-akan
semua begitu ajaib dan luar biasa. Entahlah, perasaan ini tumbuh melebihi batas
yang ku tau. Untuk kamu pemilik plat motor bernomor F 2605 NL J”
Kurasa tulisanku ini akan ku posting ke
blog ku saja. Aku mengklik pada layar laptop yang bertuliskan posting. Ketika
aku mencoba meriksa handphone yang daritadi tak kupegang sama sekali, ternyata
ada 1 pesan masuk. Mungkin dari Nata ucapku dalam hati, ternyata dari nomor
yang tak ku kenal
“From 081315611673
Hai Kuggy ini aku Vian, aku tadi minta
nomor kamu dari Nata, enggak apa-apa kan aku minta nomor kamu?”
Ya Tuhan mimpi apa aku? Malam-malam
seperti ini dapat SMS dari Vian kurang beruntung apalagi coba? 3 hari yang lalu
ditolongin sama Vian. Aduh Vian jangan membuat aku merasa perasaan yang
melebihi batas yang aku tau. Tanpa menunggu lama lebih baik aku balas sms dari
Vian saja.
“To : 081315611673
Hai juga Vian, iya enggak apa-apa kok
Vian hehe”
***
Semenjak hari itu Kuggy semakin dekat
dengan Vian dan begitupun dengan Nata. Meskipun Kuggy sudah mulai membiasakan
diri melupakan masa lalunya namun dia tak akan pernah lupa dengan sahabatnya
yaitu Nata. Ya Tuhan apa yang sedang terjadi pada diriku ini? Aku menjadi takut
kehilangan Vian. Dia seperti mengendalikan otak dan hatiku, ada sebab yang tak
ku mengerti sedikitpun. Aku sulit jauh darimu, aku membutuhkanmu seperti aku
membutuhkan udara. Napasku tercekak bila kamu menghilang dari pandanganku.
Salahkah jika kau kunomor satukan? Tak terasa hanya tinggal beberapa hari lagi
aku sudah tak berada dinegeri tercinta ini, negeri yang penuh canda tawa dan
penuh kenangan, lusa aku akan terbang ke Prancis dan menetap dinegeri paling
romantis itu. Sebaiknya aku memberitahu kepada Nata dan Vian.
“To : Vian
Nata
Hai selamat pagi hari ini bisa main
bareng gak? Sudah seminggu kita gak main bareng lagi. Kalau bisa aku tunggu
dirumah aku ya jam 10”
***
“Kuggy!” panggil Nata dan Vian
bersamaan
“Vian, Nata silahkan masuk. Langsung ke
taman belakang aja ayo!” seru ku dan menarik tangan Vian dan Nata
“Kuggy ada apaan sih? Kok tiba-tiba
ngajak kita ke rumah kamu?” Tanya Nata
“hehe lagi kangen aja sama kalian
berdua” jawab ku riang “dan mau ngasih tau..” ucapku pelan
“mau ngasih tau apa gy?” Tanya Vian
dengan penasaran
“gak jadi deh, udah anterin aku main
yuk bete dirumah terus.” Pintaku
“mau main kemana? Dufan?” ujar Vian
“ide bagus vian! Ayo kita kesana
sekarang pakai mobilku saja, tapi aku gak mau yang ngedarain” jawabku dengan
penuh semangat
“iya iya bawel banget sih gy” jawab
Nata dengan nada meledek
Mungkin ini hari terakhir aku merasakan
kebahagiaan bersama Nata dan Vian sebelum aku pindah ke Prancis. Terima kasih
Viand an Nata sudah memberikan kenangan manis ini sebelum aku pergi. Aduh jadi
senyum-senyum sendirikan kalau ngeliat foto yang kupegang ini, tadi di dufan
kami sempat berfoto bersama dengan badut, difoto itu Nata sedang ingin kabur
karena didekati oleh badut sedangkan Vian sedang merangkul pundakku dan diriku
sendiri sedang menatap wajah Vian yang dihiasi lekukan senyum dari bibir Vian.
Dan tak terasa air mataku jatuh tepat diatas bingkai foto itu. Aku gak tau
gimana aku nanti di Prancis tanpa ada Vian dan Nata tanpa kusadari aku tertidur
pulas sambil memeluk bingkai foto itu.
***
Aku terbangun dan menatap pemandangan
di luar jendela kamarku, mulai besok aku tak akan melihat pemandangan seperti
ini lagi. Suasana dan cuaca pasti berbeda, kehidupanku mungkin juga berubah.
Tak terasa mataku menjadi berkaca-kaca dan langsung kuhapus agar tak ada
kesedihan yang menyelimuti perpindahanku. Aku sebaiknya memberitahu Viand an
Nata sekarang juga.
“ To :Vian
Nata
Selamat pagi, aku cuma mau bilang besok
aku udah gak ada disini. Besok aku bakal pindah dari sini ke Prancis. Maaf jika
aku ngasih tau kamu terlambat, terimakasih untuk semua kenangan indah ini. Aku
gak akan lupain kalian kok Vian dan Nata :’) “
***
Cukup tenang perasaanku saat ini, aku
sudah memberitahu kepada Vian dan Nata. Mereka merupakan orang yang aku saying
entah sebagai sahabat, kakak, saudara, bahkan seseorang yang spesial. Ku lihat
handphone yang sedaritadi ku genggam ternyata ada sebuah pesan masuk.
“ From : Vian
Keluar rumah gy, aku ada di taman
belakang”
Tanpa berpikir panjang aku segera
bergegas dan berlari menuju taman belakang. Ya benar saja disana ada Vian
seorang diri. Aku tak melihat sosok Nata bersamanya, sepertinya ekspresi muka
Vian marah atau sedih, entahlah aku tak dapat menyimpulkan saat ini.
“Vian, ada apa kok nyuruh aku ke sini?”
Tanya ku pelan
“seharusnya aku yang nanya sama kamu,
kenapa kamu mau pindah ke Prancis baru ngasih tau aku sekarang?! Kamu gak mikir
apa perasaan aku gimana?” jawab Vian dengan penuh kesal
“maaf Vian aku gak sanggup ngasih tau
kamu sama Nata” ucapku gugup dan tak sadar air mataku jatuh ke pipiku ini
Sejenak tiada kata-kata yang
terlontarkan dariku maupun dari Vian. Kami saling membisu, hanya terdengar
suara tangisku dan detak jantung Vian yang tak beraturan. Tak lama kemudian aku
merasakan getaran, ternyata Vian memegang kedua tangan ku dan berbisik pelan
“aku cuma gak mau kehilangan kamu gy,
maaf tadi aku udah ngebentak kamu. Aku cuma takut kamu pergi dari aku, dan
sekarang mimpi buruk itu datang. Kamu akan pergi jauh dari aku gy” ucap Vian
pelan
“Vian, aku pergi kesana tapi bukan berarti
kita gak bisa komuniskasi lagi, apalagi zaman sekarang udah canggih. Aku janji
bakal sering ke Indonesia Vian” jawabku meyakinkan Vian
Keheningan kembali diantara aku dan
Vian, dan Vian memelukku entah itu pelukkan perpisahan atau apalah aku tak mengerti
namun aku mengerti jika hatiku merasa tenang berada disamping Vian, sungguh aku
tak mau kehilangan Vian!
***
Kemudian dimalam harinya diriku
memutuskan untuk kerumah Nata mengenang masa kecil aku bersamanya. Ternyata
Nata sudah menunggu diatas trampolin yang sering kami pakai untuk beristirahat.
Pelan-pelan aku menghampiri Nata
“Nata” ucapku pelan sambil menepuk
pundaknya
“kamu tega gy!” ujar Nata dengan nada
kecewa
“maaf Nata, aku cuma gak sanggup ngasih
tau ini ke kamu sama Vian” jawabku lirih
“gak mau tahu pokoknya malam ini kamu
harus disini, diatas trampolin kita ini, sehingga aku tak akan terlalu sedih
jika kamu udah gak ada disini lagi” ucap Nata dengan gemetar
Tak terasa air mataku jatuh dan
cepat-cepat Nata menghapusnya
“lah kamu kok jadi nangis gy?
Indonesia-Prancis gak begitu jauh kok, kan kita bisa komunikasi apalagi
sekarang makin canggih” ucap Nata
“iya Nata, aku bakal ada buat kamu malam
ini” ujarku dengan tersenyum sedih
Aku dan Nata malam itu menghabiskan
waktu membahas masa kecil kami, sangat lucu sekali. Hingga kami terlelap
sekitar pukul 4 pagi
***
Setibanya aku, Vian, dan Nata di
Bandara Soekarno-Hatta Jakarta, tak ada satu suarapun yang keluar dari mulut
Vian dan Nata namun ketika aku hendak berpamitan menuju ruang tunggu, Vian
mencoba menarik lenganku sehingga membuatku tak sanggup pergi meninggalkan dia.
“Kuggy jaga diri baik-baik ya” ucap
Vian dengan nada sedih
“iya kamu juga ya Vian, Nata” ucapku
setegar mungkin
“nih untuk kamu, boneka stitch boneka
kesukaan kamu kan? Semoga bisa nemenin kamu di Prancis” ujar Vian
“makasih ya Vian, makasih juga Nata”
jawabku sambil memeluk mereka
“udah jangan ada acara nangis-nangisan
ah” ucap Nata dengan menghapus air mata Kuggy
***
Selama 13 jam berada di dalam pesawat,
aku cukup merasa lelah tapi terbalaskan sudah karena melihat dengan mata
kepalaku sendiri bagaimana kesibukkan di Bandara Charles de
Gaulle Prancis mataku hampir tak bisa berkedip sehingga aku nyaris saja
tertabrak oleh orang yang sedang terburu-buru tak sanggup ku deskripsikan
bagaimana sibuknya bandara tersebut. Karena kedua orangtuaku sudah terlebih
dahulu berangkat ke Prancis, sehingga aku hanya menunggu kedua orangtuaku di
ruang menunggu, tak lama kemudian orangtuaku datang dan langsung membawa ku ke
apartemen milik keluargaku. Baru sehari aku berada disini dan jauh dari Vian
dan Nata, aku sudah merasakan sepi dan kerinduan yang tak berujung. Sedangkan
aku akan selamanya tinggal disini, lalu bagaimana dengan perasaanku ini? Akankah
selalu untuk Vian, namun aku kuatkan diriku dan yakin bahwa memang hati ini
hanya untuk Vian.
***
Selamat pagi
kota Paris, sungguh rasanya secepat ini, baru saja kenarin aku membuka jendela
dan menghirup udara segar di Jakarta namun sekarang sudah ada di Paris,
perasaan tercampur tak karauan. Saat ini tepat sedang terjadi musim gugur di
Paris, dulu pernah punya mimpi bisa sekolah dan tinggal disini, dan sekarang
terkabulkan doa itu seperti magic saja. Terima kasih Tuhan untuk semua ini.
“Mah, aku hari
ini mau keliling kota Paris boleh gak? Tapi sendirian aja, please mah bolehin
ya” ucapku manja dengan memberikan senyuman dan rayuan khas ku
“Sendiri aja? Emang
gak mau Mamah temenin?” jawab Mamah Kuggy
“Iya mah
sendiri aja gak apa-apa kok mah. Dadah Mamah” ucapku tergesah-gesah sembari
mencium pipi Mamah yang masih kelihatan muda itu.
Salah satu
tempat yang pertama ku kunjungi yaitu Menara Eiffel yang berada di kota Paris,
sambil memandangi indahnya pemandangan sekitar, daun pepohonan berwarna coklat.
Iya coklat, warna yang paling Vian sukai, entah mengapa detik ini aku mulai memikirkannya
kembali. Aku sangat rindu Viand an Nata. Setiap kali aku berpergian aku tak
pernah lupa untuk membawa bingkai foto dalam tasku. Ya bingkai foto, foto yang
dulu berpose di Dunia Fantasi Ancol. Autumn ku disini terasa hampa, karena ku merasakan
kesunyian dan kesepian.
***
Tak terasa
sudah enam tahun aku tinggal disini, dan akan segera lulus dari S2 di École Normale Supérieure Paris.
Besok adalah hari yang paling spesial bagiku karena besok aku akan di wisuda
dari tempat kuliahku dan bertambahnya usiaku ini.
Aku terbangun dari tidur cantikku dan
terkejut dengan sebuah kejutan ini, aku mencoba mencubit diriku sendiri, apakah
ini hanya mimpi? Jika iya tolong bangunkan aku, tapi aku salah ini memang
kenyataan, kejutan yang sederhana namun sangat indah bagiku.
“Selamat ulang tahun yang ke 22
ditanggal 22 ya Kuggy!” ucap Vian
“Selamat ulang tahun Kuggy!” timpal
Nata
“Selamat ulang tahun anakku tersayang”
ujar Mamah dan Papah sambil mencium pipi Kuggy
“Ini aku enggak mimpi kan ya?” ucapku
terbata-bata
“Enggak kok gy” ucap Vian dengan
senyumnya, ya senyum khas yang hanya dimiliki oleh Vian
“Cepet tiup lilinnya dong gy!” ujar
Nata dengan semangat
Dan segera aku meniup lilinnya, dan semuanya
bersorak ramai. Terimakasih Tuhan untuk hari ini ditanggal 22
“Kuggy nanti siang mau wisuda ya? Cepat
sana mandi terus dandan yang cantik ya” ucap Vian meledek
“Iya Vian, terimakasih ya untuk kejutan
ini” ujarku dengan senyuman semanis mungkin
“Oh jadi cuma sama Vian aja?” ucap Nata
dengan merajuknya yang khas
“Hehe sama Nata juga kok” jawabku
meledek
Cukup melelahkan hari ini, aku
tersenyum ketika melihat foto itu, foto ketika tadi pagi dengan ekspersi mukaku
yang terkejut, foto ketika aku wisuda berpose bersama keluarga, dan foto ketika
aku wisuda berpose dengan Nata dan Vian, Vian yang sedang memberikan aku sebuket
bunga mawar dan Nata yang sedang melirik aku dan Vian. Dan ketika diriku sedang
memandangi foto itu tiba-tiba….
“Kuggy mau pergi keluar sebentar gak?”
ajak Vian
“Kemana Vian?” tanyaku
“Suatu tempat, udah sana kamu ganti
baju dulu aku tunggu dibawah ya!” ucap Vian sambil berlari
Entahlah aku merasa bingung tapi yang
membuatku lebih bingung mengapa aku langsung menuruti perintah Vian, aku merasa
seperti dihipnotis seketika melalui senyum darinya.
“Vian, udah siap nih. Mau kemana sih
kita sebenarnya?” tanyaku penasaran
“Adadeh, pokoknya ikut aja. Tapi kamu
harus tutup mata dulu” ucap Vian
Aku merasa penasaran setengah mati,
tapi aku senang sekaligus nyaman jika berada didekat Vian. Ya Tuhan, apakah
perasaan ini masih sama seperti dulu? Masih hanya untuk Vian setelah enam tahun
lamanya tak berkomunikasi satu sama lain. Dan ketika Vian membukakan tutup mata
dariku ya Tuhan aku sangat………suka kejutan ini. Menikmati hari ulangtahunku
hanya berdua dengan Vian dibawah gemerlapnya Menara Eiffel tengah malam.
Walaupun aku sering ketempat itu namun kali ini aku merasa tempat itu lebih
romantis ya romantis karena ada Vian didekatku.
“Aku sengaja bikin kejutan ini buat
kamu gy, semoga kamu suka ya sama kejutan ini” ucap Vian
“Makasih ya buat semua ini Vian, aku
sangat suka kejutan ini” jawabku dengan rasa terharu
“Aku boleh nanya gak Vian?” tanyaku
“Boleh, Tanya apa gy?” ucap Vian halus
“Sebenarnya kamu, itu nganggep aku
apa?” tanyanku pelan
Semenjak pertanyaan itu keluar dari
mulutku, kami berdua hanya bisa diam membisu, melewati Sungai Seine yang seharusnya
romantis malah menjadi kaku seperti diam menjaga jarak satu sama lain. Aku
menyesal telah bertanya seperti itu..
***
“Kuggy, aku dan Vian pamit pulang ke
Indonesia. Karena masih banyak pekerjaan di Indonesia, aku janji nanti aku akan
ke Prancis lagi untuk bertemu sama kamu bareng Vian juga” ucap Nata sedih
“Iya janji ya bakalan kesini lagi!
Terimakasih udah kesini bikin kejutan buat aku” ucapku lemah
Sedangkan Vian hanya bisa terdiam kaku,
namun aku masih sempat melihat senyum indah yang terukir dari bibir manisnya
itu. Ya Tuhan apakah aku masih bisa melihat senyum khas dari Vian? Tolong
izinkan aku untuk bertemu dengannya kembali Tuhan. Sungguh aku sangat
menyayanginya.
“hati-hati dijalan ya Vian, Nata. Aku sayang
kalian” ucapku lirih
***
Aku mencoba membangkitkan tubuhku dari
tempat tidurku, namun entah mengapa badanku terasa berbeda dengan sebelumnya,
kuingat memang sudah sepekan ini aku terlalu sibuk sehingga aku tidak
memperhatikan pola makanku. Aku berniat akan memeriksakannya ke Rumah Sakit
terdekat dari apartemenku.
“Dok, sebenarnya saya sakit apa?”
tanyaku penasaran
“sebaiknya kamu lihat dikertas ini”
ujar dokter muda itu sembari memberikan surat keterangan
Seketika tubuhku terasa lemas ketika
melihat nama penyakit yang ada dalam diriku “LEUKIMIA GANAS” aku berfikir
mungkin itu ada kesalahan pada ruang laboratoriumnya namun dokter itu mencoba
menenangkan jiwaku dan memberi tahu jika aku memang terkena leukemia ganas.
Entahlah pikiranku kosong, bahkan tak
jarang tatapan mataku ikut kosong juga. Sampai suatu hari, aku terjatuh lemas
saat turun dari tangga, akibat mendengar suara jatuh itu. Orangtuaku membawa
diriku kerumah sakit tempat aku memeriksa kesehatanku sekitar delapan bulan
yang lalu. Dan akhirnya kedua orangtuaku mengetahui sesuatu yang sudah kututp
rapat-rapat itu. Aku sempat koma selama lima hari dan saatku koma, aku merasa
seperti Vian berada didekatku dan berbisik agar aku tetap berjuang untuk hidup
dan melihat dirinya kembali, entah mengapa jiwaku seperti bersatu kembali. Aku
sangat merindukannya.
“Kuggy tolong kamu sadarkan diri aku
tak ingin…” bisik Vian
“Vian” ucapku lemah
“Syukurlah kamu sadar juga gy, tunggu
aku panggil mamah sama papah kamu sama Nata juga” ucapnya tergesah-gesah
“Gak usah Vian” ucapku sembari mencegah
Vian pergi
“Kenapa?” Tanya Vian
Aku hanya diam membisu, dan mengalihkan
pembicaraan.
“Gimana kamu selama beberapa hari ini?
Kangen ya sama aku?” ucapku bercanda
“Iya aku kangen sama kamu gy, kangen
banget malah” jawab Vian singkat
Setelah itu tak ada pembicaraan antara aku
dengan Vian, tanpa aku sadari terlalu banyak membisu dan yang terdengar hanya
suara jantungku yang tak beraturan, dadaku terasa sesak seperti udara tak memihak
kepadaku. Tak lama kemudian Nata pun masuk keruangan tempat aku dirawat.
“gy, kamu udah sadar?” Tanya Nata kaget
“belum sadar Nat, ya udahlah Nata
buktinya aku bisa ngomong sama kamu detik ini” jawabku bercanda
“oh iya gara-gara panik jadi otak sedikit
lama berfikir nih gy haha” jawabnya sambil tertawa
“Nata, Vian thanks ya kalian udah
perhatian sama aku kayak gini” ucapku terharu “aku gak tahu nanti aku akan
seperti apa kalau udah gak ada disini, disamping kalian semua” ucapku pelan
“Iya sama-sama gy, udah ah jangan
ngomong kayak gitu jadi sedih gini kan” jawab Nata murung
“Iya maaf deh Nata” ucap Kuggy sambil
memeluk Nata dengan erat “sumpah aku takut, kalau aku bakal ninggalin kamu sama
Vian”bisik Kuggy
“Sebentar ya gy, aku mau ke kamar mandi
sebentar” ucap Nata terburu-buru sembari menghapus air matanya
Vian yang dari tadi lebih banyak diam
memperhatikan percakapan aku dan Nata, dan tiba-tiba mendekat ke arahku dan…berkata
“Tuhkan Nata jadi nangis gara-gara
kamu” ucapnya sambil mengacak rambutku dengan halus
“Yah ngerasa bersalah nih sama Nata”
ucapku
“Ih gak usah ngerasa bersalah gitu gy,
emang mungkin dianya aja yang terlalu perasa” jawab Vian ngasal
“Masih mending Nata perasa daripada
kamu gak pernah peka sedikitpun” jawabku ketus
“Ih kok kamu jadi marah sama aku?” ujar
Vian “menurut aku, status itu gak begitu
penting. Yang paling penting buat aku itu cuma kamu gy gak ada yang lain. Je
t’aime” ucapnya lagi
“Aku boleh minta tolong gak? Pasti
bolehkan? Aku boleh minta kamu beliin aku teh manis gak dikantin rumah sakit?”
pintaku agar mengubah topik pembicaraan antara aku dengan Vian.
Detik itu aku merasakan rasa aneh yang
terjadi dalam tubuhku, seluruh tubuhku susah untuk bergerak, rasanya tubuhku
ini tak akan bisa menyerang penyakit yang menyelimuti tubuhku. Apa yang
seharusnya aku lakukan saat ini? Melawan penyakit ini? Kurasa tidak mungkin
karna penyakit ku ini terlalu ganas dalam menggerogoti saraf-saraf tubuhku. Apa
haruskah aku diam saja dan membiarkan penyakit ini leluasa menyerang tubuhku?
Lalu, bagaimana dengan Mamah, Papah, Nata dan Vian? Mungkin, aku terlalu egois
berharap Tuhan memperpanjangkan sisa hidupku, tapi aku tahu diri kok. Tuhan itu
sayang sama aku, Tuhan itu gak mau kalau aku tersiksa lama-lama disini, yang
terus-menerus memendam perasaan ini tanpa sesuatu kejelasan yang pasti.
“Kuggy, ini teh manis pesanan kamu”
teriak Vian saat menutup pintu kamar tersebut.
Tak lama kemudian terdengar suara
pecahan gelas yang tadi dipegang oleh Vian. Mendengar suara pecahan gelas,
mamah dan papah Kuggy segera menuju ruang Kuggy dirawat. Karena kedua orang tua
Kuggy yang baru sampai di rumah sakit semenjak mereka pulang beberapa jam untuk
membersihkan diri mereka. Tak lama kemudian, terdengar suara isak tangisan
dalam ruangan Kuggy dirawat, hujan yang mengguyur kota Paris tersebut seolah
ikut bersedih, karena Kuggy secepat itu meninggalkan Mamah, Papah, Nata, dan
Vian.
“Udah mah, Kuggy udah tenang disana.
Kuggy gak mau lihat Mamah seperti ini” ucap Papah dengan menguatkan hati Mamah
Kuggy
***
Semenjak kejadian itu, Vian dan Nata
menjadi lebih pendiam dari biasanya. Entahlah, mungkin mereka memang merasa
kehilangan sekali satu-satunya orang yang membawa keceriaan dalam persahabatan
mereka lebih dahulu meninggalkan mereka, tapi mereka tak tahu akan menyalahkan
siapa? Takdir? Mereka tak akan bisa menunda takdir terhadap diri seseorang.
Tiba-tiba Vian tersadar dari lamunannya yang sedaritadi membayangkan senyum
manis yang Kuggy berikan kepadanya setiap saat. Dan Vian memeriksa handphonenya
ternyata ada pesan masuk.
“ From : Mamah Kuggy
Vian, kamu bisa ke rumah gak? Tadi
tante menemukan buku yang didalamnya ada tulisan untuk kamu, tante harap kamu
bisa ke rumah sekarang juga”
***
Sesampainya Vian didepan rumah Kuggy,
tanpa berpikir panjang Vian langsung mengetuk pintu rumah Kuggy.
“Oh Vian, silahkan masuk” ucap Mamah
Kuggy dengan ramah
“Iya tante makasih” jawab Vian sopan
Mamah Kuggy langsung menyuruh Vian
masuk kedalam kamar Kuggy. Terasa aneh jika berada disini tanpa Kuggy, kamar
ini menjadi sunyi dan sepi sekali. Sesekali Vian merasakan jika Kuggy sedang
duduk manis disampingnya, memperhatikan dirinya. Tanpa menunggu lama, Vian
mengambil buku, entahlah Vian tak begitu mengerti dengan buku itu. Namun,
perlahan-lahan dia mulai membuka buku tersebut, dan dihalaman pertama ada
sebuah tulisan yang tertulis dengan rapih yang bertuliskan
“ Maafkan aku, karena aku telah menjadi
wanita pengecut yang hanya berani mengungkapkan semua perasaan dihatiku ini
melalui tulisan, karena hanya dengan itulah aku mampu mengumpulkan semua
perasaan yang ada untukmu Alvian Aldo Prakasa”
Baru halaman pertama dibuka rasanya
membuat jantungku ini berdebar-debar. Aku seperti tak ingin membuka halaman
berikutnya, namun apadaya tingkat penasaranku melampaui dasar. Dan ku buka
halama kedua, dan masih sama yang kutemukan hanya tulisan, namun tulisannya
berbeda, dihalaman kedua tersebut tertulis tulisan
“ Aku ingin kau tahu, bahwa aku
mensyukuri hari aku mengenalmu. Aku juga ingin berterima kasih atas semua yang
sudah kau lakukan untukku. Rasanya semua terjadi begitu cepat, kita berkenalan
lalu tiba-tiba aku merasakan perasaan aneh. Setiap hari rasanya berbeda dan tak
lagi sama. Kamu hadir membawa banyak perubahan dalam hari-hariku. Hitam dan
putih menjadi lebih berwarna ketika sosokmu hadir mengisi ruang-ruang kosong
dihatiku. Tak ada percakapan yang biasa, seakan-akan semua begitu ajaib dan
luar biasa. Entahlah, perasaan ini tumbuh melebihi batas yang ku tau. Untuk
kamu pemilik plat motor bernomor F 2605 NL”
Tiba-tiba Vian merasakan sesuatu yang
aneh, tubuhnya seperti terguncang gempa hebat, tubuhnya lemah membaca situ,
namun Vian tetap memaksakan untuk membuka halam ketiga dari buku tersebut dan
bertuliskan
“ Aku menjadi takut untuk kehilanganmu.
Siksaan itu datang ketika kamu tak berada disampingku. Aku sulit untuk jauh
darimu, aku membutuhkanmu seperti aku membutuhkan oksigen. Salahkah jika aku
selalu menomorsatukan dirimu?
Tapi…entah mengapa sikapmu tak sama
seperti sikapku, perhatianmu tak sedalam perhatianku untukmu. Berdosakah aku
jika terlalu sering menjatuhkan air mataku ini untukmu? Adakah kesalahan
diantara aku dan kamu? Apakah kamu tak merasakan yang juga aku rasakan?
Kamu mungkin belum terlalu paham dengan
perasaanku, karena kamu memang tak pernah sibuk memikirkanku. Semuanya jauh
dari harapanku selama ini. Mungkin aku yang terlalu banyak berharap. Akulah
yang tak menyadari letakmu yang sangat jauh dari genggaman tanganku. Akulah
yang bodoh! Akulah yang salah!”
Vian merasa bersalah, hatinya seperti
digoreskan oleh benda tajam. Vian tak
menyadari gadis itu memberikan perhatian lebih, hanya saja dirinya yang tak
mampu menyadari semua itu. Dia membuka halaman selanjutnya, dan menemukan….
Sebuah foto, ya foto itu ketika mereka
pergi ke Dunia Fantasi Ancol sekitar tujuh tahun yang lalu, namun foto itu
masih tersimpan rapih. Dibawahnya ada tulisan
“Kamu ingat gak saat itu? Aku rindu
masa itu, ketika aku di Paris yang jauh dari kamu dan Nata aku selalu
memperhatikan foto itu dan tak jarang air mataku jatuh difoto itu. Kapan ya
kita bisa kayak gitu lagi?”
Ya Tuhan, aku tak sanggup membacanya
(ucap Vian yang tak sadar air matanya terlah terjatuh deras dipipinya). Segera
dia membuka halaman berikutnya
“Vian, mungkin aku udah gak ada
disamping kamu saat kamu buka buku ini, tapi percayalah aku tahu semua yang
terjadi padamu. Aku tak ingin kamu menangis, jika kamu ingin membaca halaman
berikutnya, kamu harus menghapus air matamu dahulu, karena aku tak ingin ada
kesedihan dalam buku ini Vian”
Hatinya kembali seperti tergores benda
tajam, darimana Kuggy tau kalau aku sedang menangis? (Tanya resah Vian).
Sebelum membuka halaman berikutnya, Vian melakukan apa yang diperintahkan Kuggy
dihamalan sebelumnya, dan ia mulai membuka halaman berikutnya
“ Hari ini ulang tahunku, dan sesuatu
yang tak kusangka Nata dan Vian memberikan kejutan, terlebih saat Vian
mengajakku menikmati malam dibawah Menara Eiffel, sangat romantis. Aku sangat
berharap dari dulu Vian memberikan perhatian seperti saat ini, namun tak
berlangsung lama kami mulai membisu, melewati sungai Seine saja seperti
melewati sungai pada umumnya, dimana perhatian kamu seperti saat di bawah
Menara Eiffel? Salahkah jika aku mengharapkanmu?”
Tanpa komentar apapun Vian segera
membuka halaman berikutnya
“ Kenapa penyakit ini menyerang
tubuhku? Mengapa bukan orang lain?! Sepertinya aku cukup frustasi karena aku
tahu, diriku sudah terserang penyakit “LEUKIMIA GANAS” apa salahku sehingga
Tuhan memberikanku penyakit semacam ini? Apakah Tuhan tidak sayang kepadaku?
Aku menjadi hilang kendali, keceriaanku pun menjadi hilang”
Tak sadar, Vian telah meneteskan air
matanya kembali dan membuka halaman terakhir dari buku tersebut. Terdapat foto
dirinya bersama Kuggy ketika Vian sedang tertidur pulas yang lelah menjagai
Kuggy, dan terdapat tulisan
“ Maafkan jika aku merepotkanmu,
sungguh sebenarnya aku tak ingin merepotkan siapa-siapa. Maaf juga karena aku
telah mengganggu pikiranmu akhir-akhir ini.
Kata sederhana ini kini terasa
mengerikan.
Karena kata itu bertentangan dengan kenyataan.
Karena kata itu merujuk pada mimpi yang tidak akan tercapai.
Karena kata itu bertentangan dengan kenyataan.
Karena kata itu merujuk pada mimpi yang tidak akan tercapai.
Segalanya terasa menyenangkan bila kamu
ada. Segalanya terasa baik bila kamu ada. Kuharap kamu bisa mulai melihatku.
Karena hidupku tanpa dirimu sama sekali bukan hidup. Terima kasih karena telah
menemaniku selama ini. Terima kasih karena tetap bersabar denganku walaupun aku
cenderung bersikap tidak masuk akal akhir-akhir ini.
Satu-satunya penyesalanku dalam hidup
adalah aku tidak bisa bersamamu sekarang dan mengatakan semua ini secara
langsung kepadamu. Tapi tolong percayalah padaku ketika kukatakan bahwa aku
ingin selalu bersamamu. Percayalah kepadaku ketika kukatakan bahwa aku selalu
ingin berada di dekatmu. Dan percayalah kepadaku ketika kukatakan bahwa aku
mencintaimu.
Walaupun tidak
ada hal lain di dunia ini yang bisa kaupercayai,
percayalah
bahwa aku mencintaimu. Sepenuh hatiku
Salam rindu
dariku diatas langit kota Paris ini untuk kamu seseorang yang telah
mengendalikan hati dan otakku ; Alvian Aldo Prakasa “