Rabu, 24 April 2013

Nothing Last Forever

            Aku mengambil nafas panjang dengan putus asa, entah apa yang sedang membebani pikiran dalam otakku. Mungkin akibat masa lalu, ya benar! Masa lalu entah mengapa terlalu sulit untuk aku lupakan, aku bingung bertanya pada hatiku sendiri apa manfaat mengingat masa lalu? Hanya menghabiskan tisu saja walaupun ku tahu begitu namun tetep saja masa lalu itu sepertinya tak ingin pergi dari otakku. Aku seperti orang bodoh yang seharusnya diperiksa kejiwaannya oleh psikolog bisa saja aku terkena penyakit “susah move on”. Aku terkejut ketika seseorang menepuk mungkin lebih tepatnya memukul pundakku hingga aku tersadar dari lamunan masa lalu.
“woy kok ngelamun? Pasti lagi mengingat masa lalu ya?” tanya Nata sambil meledek
Nata memang merupakan salah satu sahabatku, dia itu sikapnya susah ditebak tergantung mood kadang ngeselin tapi dia juga salah satu orang pembawa keceriaan bagiku.
“apaan sih Nat? Dateng-dateng bikin orang jantungan, emangnya gak ada kerjaan lain selain bikin jantungan orang?” jawabku dengan emosi
“maaf gy. Tapi, aku ngagetin kamu itu ada hikmahnya” jawab Nata sambil nyengar-nyegir
“hikmah apaan sih? Gak ada! Adanya bikin bahaya, bikin aku jantungan tau!” jawabku ketus
“ada kok hikmahnya, coba kamu lihat, kamu udah ngabisin berapa tisu? Berapa banyak pohon yang ditebang buat jadi tisu yang kamu buang ini? Aku ngagetin kamu itu buat bumi bukan buat kamu, makanya jadi orang jangan ke-GR-an!” jawab Nata lebih meledek
“tau ah Nata ngeselin!” jawabku sambil membuang pandangan dari Nata
“jangan marah Kuggy, aku cuma gak mau kamu masih tenggelam di masa lalu kamu, aku cuma merasa kehilangan kamu yang dulu. Hei Kuggy yang dulu ku kenal bukan seperti ini. Kuggy yang ku kenal selalu riang beda sama yang sekarang” ucap Nata dengan sedih
“setiap orang gak selamanya selalu bahagia, ada kalanya sedih Nat” jawabku
“iya aku tau kok, tapi emangnya kamu mau tenggekam dalam keterpurukan kayak gini? Emang dia masih mikirin kamu? Jangankan mikirin mungkin dia udah gak inget lagi sama kamu” jawab Nata dengan cuek
“iya benar juga ucapan kamu Nat, oke bakal lupain dia! Bantuin aku ya?” jawabku dengan penuh semangat
“bantuin apa?” ucap Nata
“bantuin move on lah Nata!” jawabku dengan geregetan
“oh iya iya sip.” ucap Nata sambil tertawa
                                                                        ***
            Aku terbangun dari tidur cantikku langsung ku cari handphone yang terselip dibawah bantal, sepertinya sudah menjadi rutinitasku  setiap bangun tidur pasti yang pertama kali kucari yaitu handphone. Ternyata ada 10 pesan masuk :
“ From : Nata
Selamat pagi putri manja gak berubah ya dari dulu sampai sekarang setiap bangun tidur pasti langsung meriksa handphone. Aku cuma mau bilang pokoknya mulai detik ini kamu harus jadi Kuggy yang dulu yang selalu ceria titik! Sengaja aku kirim SMS sebanyak ini buat kamu, supaya kamu tau kalau aku kangen sekali sama kamu yang dulu. Pokoknya nanti pas aku jemput udah harus siap! Dadah sampai ketemu nanti J.”
                                                                        ***
Terdengar suara keras klakson dari depan pagar. Kubuka pintu rumah ku dan ternyata Nata, dia gak bohong kalau dia bakal jemput aku.
“selamat pagi putri manja” ucap Nata sambil meledek
“selamat pagi juga sopir” balasku sambil tertawa
“nah gitu dong ceria lagi” ujar Nata sambil mengusap rambutku dengan lembut
“Nat bantuin aku editin tugas film bahasa Indonesia dong” ucapku memohon
“emangnya berani bayar berapa? Haha bercanda, iya nanti pulang sekolah aku kerumah kamu deh” jawab Nata
“sip makasih Nata” ucapku sambil tersenyum riang
Meski Nata dan Kuggy berbeda sekolah karena Nata lebih memilih SMK sedangkan Kuggy lebih memilih SMA namun sekolah mereka hanya bersampingan saja.
“tuh udah sampai sekolahan kamu gy” ucap Nata
“iya makasih ya Nat, oh iya kayaknya aku bakal pulang duluan nanti enggak apa-apa kan Nat? jawabku
“iya enggak apa-apa kok gy, tapi kamu tungguin dirumah ya!” jawab Nata sambil melambaikan tangan
                                                                        ***
“Kuggy!” panggil Nata sambil mengetok pintu rumah Kuggy
“iya bentar jangan bawel!” teriakku
Aku terburu-buru menuruni tangga itu namun karena salah satu kelemahanku ceroboh, hingga aku terjatuh dari tangga tersebut. Nata yang mendengar suara jatuh langsung membuka pintu rumah Kuggy dan benar saja dia menemukan Kuggy sedang meringis kesakitan.
“Kuggy! Kok bisa jatuh sih?” ucap Nata panik
“ih aku tadi ceroboh Nat, hehe” jawabku bercanda meski aku masih merasa sangat sakit
Namun ternyata ada sebuah uluran tangan ya membantuku untuk berdiri, ku kira itu tangan Nata saat aku menengok kesamping ternyata itu bukan Nata tapi entah siapa itu karena aku belum pernah bertemu dengannya. Aku tertunduk entah apa yang aku rasakan saat itu, rasanya bercampur-campur.
“Kuggy kenalin dia temen aku “ ucap Nata sambil menunjuk orang disampingnya
“hai namaku Alvian Aldo Prakasa” ucapnya sambil menjulurkan tangannya
“hai juga nama aku Kuggy Tiaza Sagita” ujarku dengan membalas uluran tangannya dan mencoba memberikan senyuman paling manis yang ku punya
“panggil aja Vian ya” balas Vian
“Enggak percuma ya kalau tadi aku jatuh dari tangga tapi ada malaikat penyelamat yang gantengnya maksimal kayak Vian haha” ucapku riang dalam hati
“gy mana film yang mau dieditin?” Tanya Nata membangunkan aku dari lamunan
“tuh ada di ruang keluarga laptopnya, ayo kesana aja” jawabku
Aduh ya Tuhan enggak sanggup kalau berhadapan sama Vian yang gantengnya maksimal kayak gini. Ini mah surga dunia banget buatku. Diam-diam aku mencoba mengambil kesempatan untuk melirik Vian. Apakah ini namanya? Entahlah aku sendiri bingung.
                                                                        ***
Aku lebih sering mengisi waktu kosong ku dengan menulis cerita, rasanya menulis itu lebih dapat menuangkan apa yang ada dalam jiwa dan hatiku tanpa ada komenan, lalu ku coba menulis diatas kertas putih kosong
“ 15 April 2013
Rasanya semua terjadi begitu cepat, kita berkenalan lalu tiba-tiba merasakan perasaan aneh. Setiap hari rasanya berbeda dan tak lagi sama. Kamu hadir membawa banyak perubahan dalam hari-hariku. Hitam dan putih menjadi lebih berwarna ketika sosokmu hadir mengisi ruang-ruang kosong dihatiku. Tak ada percakapan yang biasa, seakan-akan semua begitu ajaib dan luar biasa. Entahlah, perasaan ini tumbuh melebihi batas yang ku tau. Untuk kamu pemilik plat motor bernomor F 2605 NL J
Kurasa tulisanku ini akan ku posting ke blog ku saja. Aku mengklik pada layar laptop yang bertuliskan posting. Ketika aku mencoba meriksa handphone yang daritadi tak kupegang sama sekali, ternyata ada 1 pesan masuk. Mungkin dari Nata ucapku dalam hati, ternyata dari nomor yang tak ku kenal
“From 081315611673
Hai Kuggy ini aku Vian, aku tadi minta nomor kamu dari Nata, enggak apa-apa kan aku minta nomor kamu?”
Ya Tuhan mimpi apa aku? Malam-malam seperti ini dapat SMS dari Vian kurang beruntung apalagi coba? 3 hari yang lalu ditolongin sama Vian. Aduh Vian jangan membuat aku merasa perasaan yang melebihi batas yang aku tau. Tanpa menunggu lama lebih baik aku balas sms dari Vian saja.
“To : 081315611673
Hai juga Vian, iya enggak apa-apa kok Vian hehe”
                                                                                    ***
Semenjak hari itu Kuggy semakin dekat dengan Vian dan begitupun dengan Nata. Meskipun Kuggy sudah mulai membiasakan diri melupakan masa lalunya namun dia tak akan pernah lupa dengan sahabatnya yaitu Nata. Ya Tuhan apa yang sedang terjadi pada diriku ini? Aku menjadi takut kehilangan Vian. Dia seperti mengendalikan otak dan hatiku, ada sebab yang tak ku mengerti sedikitpun. Aku sulit jauh darimu, aku membutuhkanmu seperti aku membutuhkan udara. Napasku tercekak bila kamu menghilang dari pandanganku. Salahkah jika kau kunomor satukan? Tak terasa hanya tinggal beberapa hari lagi aku sudah tak berada dinegeri tercinta ini, negeri yang penuh canda tawa dan penuh kenangan, lusa aku akan terbang ke Prancis dan menetap dinegeri paling romantis itu. Sebaiknya aku memberitahu kepada Nata dan Vian.
“To : Vian
         Nata
Hai selamat pagi hari ini bisa main bareng gak? Sudah seminggu kita gak main bareng lagi. Kalau bisa aku tunggu dirumah aku ya jam 10”
                                                                                    ***
“Kuggy!” panggil Nata dan Vian bersamaan
“Vian, Nata silahkan masuk. Langsung ke taman belakang aja ayo!” seru ku dan menarik tangan Vian dan Nata
“Kuggy ada apaan sih? Kok tiba-tiba ngajak kita ke rumah kamu?” Tanya Nata
“hehe lagi kangen aja sama kalian berdua” jawab ku riang “dan mau ngasih tau..” ucapku pelan
“mau ngasih tau apa gy?” Tanya Vian dengan penasaran
“gak jadi deh, udah anterin aku main yuk bete dirumah terus.” Pintaku
“mau main kemana? Dufan?” ujar Vian
“ide bagus vian! Ayo kita kesana sekarang pakai mobilku saja, tapi aku gak mau yang ngedarain” jawabku dengan penuh semangat
“iya iya bawel banget sih gy” jawab Nata dengan nada meledek
Mungkin ini hari terakhir aku merasakan kebahagiaan bersama Nata dan Vian sebelum aku pindah ke Prancis. Terima kasih Viand an Nata sudah memberikan kenangan manis ini sebelum aku pergi. Aduh jadi senyum-senyum sendirikan kalau ngeliat foto yang kupegang ini, tadi di dufan kami sempat berfoto bersama dengan badut, difoto itu Nata sedang ingin kabur karena didekati oleh badut sedangkan Vian sedang merangkul pundakku dan diriku sendiri sedang menatap wajah Vian yang dihiasi lekukan senyum dari bibir Vian. Dan tak terasa air mataku jatuh tepat diatas bingkai foto itu. Aku gak tau gimana aku nanti di Prancis tanpa ada Vian dan Nata tanpa kusadari aku tertidur pulas sambil memeluk bingkai foto itu.
                                                                                    ***
Aku terbangun dan menatap pemandangan di luar jendela kamarku, mulai besok aku tak akan melihat pemandangan seperti ini lagi. Suasana dan cuaca pasti berbeda, kehidupanku mungkin juga berubah. Tak terasa mataku menjadi berkaca-kaca dan langsung kuhapus agar tak ada kesedihan yang menyelimuti perpindahanku. Aku sebaiknya memberitahu Viand an Nata sekarang juga.
“ To :Vian         
         Nata
Selamat pagi, aku cuma mau bilang besok aku udah gak ada disini. Besok aku bakal pindah dari sini ke Prancis. Maaf jika aku ngasih tau kamu terlambat, terimakasih untuk semua kenangan indah ini. Aku gak akan lupain kalian kok Vian dan Nata :’) “
                                                                                    ***
Cukup tenang perasaanku saat ini, aku sudah memberitahu kepada Vian dan Nata. Mereka merupakan orang yang aku saying entah sebagai sahabat, kakak, saudara, bahkan seseorang yang spesial. Ku lihat handphone yang sedaritadi ku genggam ternyata ada sebuah pesan masuk.
“ From : Vian
Keluar rumah gy, aku ada di taman belakang”
Tanpa berpikir panjang aku segera bergegas dan berlari menuju taman belakang. Ya benar saja disana ada Vian seorang diri. Aku tak melihat sosok Nata bersamanya, sepertinya ekspresi muka Vian marah atau sedih, entahlah aku tak dapat menyimpulkan saat ini.
“Vian, ada apa kok nyuruh aku ke sini?” Tanya ku pelan
“seharusnya aku yang nanya sama kamu, kenapa kamu mau pindah ke Prancis baru ngasih tau aku sekarang?! Kamu gak mikir apa perasaan aku gimana?” jawab Vian dengan penuh kesal
“maaf Vian aku gak sanggup ngasih tau kamu sama Nata” ucapku gugup dan tak sadar air mataku jatuh ke pipiku ini
Sejenak tiada kata-kata yang terlontarkan dariku maupun dari Vian. Kami saling membisu, hanya terdengar suara tangisku dan detak jantung Vian yang tak beraturan. Tak lama kemudian aku merasakan getaran, ternyata Vian memegang kedua tangan ku dan berbisik pelan
“aku cuma gak mau kehilangan kamu gy, maaf tadi aku udah ngebentak kamu. Aku cuma takut kamu pergi dari aku, dan sekarang mimpi buruk itu datang. Kamu akan pergi jauh dari aku gy” ucap Vian pelan
“Vian, aku pergi kesana tapi bukan berarti kita gak bisa komuniskasi lagi, apalagi zaman sekarang udah canggih. Aku janji bakal sering ke Indonesia Vian” jawabku meyakinkan Vian
Keheningan kembali diantara aku dan Vian, dan Vian memelukku entah itu pelukkan perpisahan atau apalah aku tak mengerti namun aku mengerti jika hatiku merasa tenang berada disamping Vian, sungguh aku tak mau kehilangan Vian!
                                                                                    ***
Kemudian dimalam harinya diriku memutuskan untuk kerumah Nata mengenang masa kecil aku bersamanya. Ternyata Nata sudah menunggu diatas trampolin yang sering kami pakai untuk beristirahat. Pelan-pelan aku menghampiri Nata
“Nata” ucapku pelan sambil menepuk pundaknya
“kamu tega gy!” ujar Nata dengan nada kecewa
“maaf Nata, aku cuma gak sanggup ngasih tau ini ke kamu sama Vian” jawabku lirih
“gak mau tahu pokoknya malam ini kamu harus disini, diatas trampolin kita ini, sehingga aku tak akan terlalu sedih jika kamu udah gak ada disini lagi” ucap Nata dengan gemetar
Tak terasa air mataku jatuh dan cepat-cepat Nata menghapusnya
“lah kamu kok jadi nangis gy? Indonesia-Prancis gak begitu jauh kok, kan kita bisa komunikasi apalagi sekarang makin canggih” ucap Nata
“iya Nata, aku bakal ada buat kamu malam ini” ujarku dengan tersenyum sedih
Aku dan Nata malam itu menghabiskan waktu membahas masa kecil kami, sangat lucu sekali. Hingga kami terlelap sekitar pukul 4 pagi
                                                                                    ***
Setibanya aku, Vian, dan Nata di Bandara Soekarno-Hatta Jakarta, tak ada satu suarapun yang keluar dari mulut Vian dan Nata namun ketika aku hendak berpamitan menuju ruang tunggu, Vian mencoba menarik lenganku sehingga membuatku tak sanggup pergi meninggalkan dia.
“Kuggy jaga diri baik-baik ya” ucap Vian dengan nada sedih
“iya kamu juga ya Vian, Nata” ucapku setegar mungkin
“nih untuk kamu, boneka stitch boneka kesukaan kamu kan? Semoga bisa nemenin kamu di Prancis” ujar Vian
“makasih ya Vian, makasih juga Nata” jawabku sambil memeluk mereka
“udah jangan ada acara nangis-nangisan ah” ucap Nata dengan menghapus air mata Kuggy
***
Selama 13 jam berada di dalam pesawat, aku cukup merasa lelah tapi terbalaskan sudah karena melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana kesibukkan di Bandara Charles de Gaulle Prancis mataku hampir tak bisa berkedip sehingga aku nyaris saja tertabrak oleh orang yang sedang terburu-buru tak sanggup ku deskripsikan bagaimana sibuknya bandara tersebut. Karena kedua orangtuaku sudah terlebih dahulu berangkat ke Prancis, sehingga aku hanya menunggu kedua orangtuaku di ruang menunggu, tak lama kemudian orangtuaku datang dan langsung membawa ku ke apartemen milik keluargaku. Baru sehari aku berada disini dan jauh dari Vian dan Nata, aku sudah merasakan sepi dan kerinduan yang tak berujung. Sedangkan aku akan selamanya tinggal disini, lalu bagaimana dengan perasaanku ini? Akankah selalu untuk Vian, namun aku kuatkan diriku dan yakin bahwa memang hati ini hanya untuk Vian.
                                                                        ***
Selamat pagi kota Paris, sungguh rasanya secepat ini, baru saja kenarin aku membuka jendela dan menghirup udara segar di Jakarta namun sekarang sudah ada di Paris, perasaan tercampur tak karauan. Saat ini tepat sedang terjadi musim gugur di Paris, dulu pernah punya mimpi bisa sekolah dan tinggal disini, dan sekarang terkabulkan doa itu seperti magic saja. Terima kasih Tuhan untuk semua ini.
“Mah, aku hari ini mau keliling kota Paris boleh gak? Tapi sendirian aja, please mah bolehin ya” ucapku manja dengan memberikan senyuman dan rayuan khas ku
“Sendiri aja? Emang gak mau Mamah temenin?” jawab Mamah Kuggy
“Iya mah sendiri aja gak apa-apa kok mah. Dadah Mamah” ucapku tergesah-gesah sembari mencium pipi Mamah yang masih kelihatan muda itu.
Salah satu tempat yang pertama ku kunjungi yaitu Menara Eiffel yang berada di kota Paris, sambil memandangi indahnya pemandangan sekitar, daun pepohonan berwarna coklat. Iya coklat, warna yang paling Vian sukai, entah mengapa detik ini aku mulai memikirkannya kembali. Aku sangat rindu Viand an Nata. Setiap kali aku berpergian aku tak pernah lupa untuk membawa bingkai foto dalam tasku. Ya bingkai foto, foto yang dulu berpose di Dunia Fantasi Ancol. Autumn ku disini terasa hampa, karena ku merasakan kesunyian dan kesepian.
***
Tak terasa sudah enam tahun aku tinggal disini, dan akan segera lulus dari S2 di École Normale Supérieure Paris. Besok adalah hari yang paling spesial bagiku karena besok aku akan di wisuda dari tempat kuliahku dan bertambahnya usiaku ini.
Aku terbangun dari tidur cantikku dan terkejut dengan sebuah kejutan ini, aku mencoba mencubit diriku sendiri, apakah ini hanya mimpi? Jika iya tolong bangunkan aku, tapi aku salah ini memang kenyataan, kejutan yang sederhana namun sangat indah bagiku.
“Selamat ulang tahun yang ke 22 ditanggal 22 ya Kuggy!” ucap Vian
“Selamat ulang tahun Kuggy!” timpal Nata
“Selamat ulang tahun anakku tersayang” ujar Mamah dan Papah sambil mencium pipi Kuggy
“Ini aku enggak mimpi kan ya?” ucapku terbata-bata
“Enggak kok gy” ucap Vian dengan senyumnya, ya senyum khas yang hanya dimiliki oleh Vian
“Cepet tiup lilinnya dong gy!” ujar Nata dengan semangat
 Dan segera aku meniup lilinnya, dan semuanya bersorak ramai. Terimakasih Tuhan untuk hari ini ditanggal 22
“Kuggy nanti siang mau wisuda ya? Cepat sana mandi terus dandan yang cantik ya” ucap Vian meledek
“Iya Vian, terimakasih ya untuk kejutan ini” ujarku dengan senyuman semanis mungkin
“Oh jadi cuma sama Vian aja?” ucap Nata dengan merajuknya yang khas
“Hehe sama Nata juga kok” jawabku meledek
Cukup melelahkan hari ini, aku tersenyum ketika melihat foto itu, foto ketika tadi pagi dengan ekspersi mukaku yang terkejut, foto ketika aku wisuda berpose bersama keluarga, dan foto ketika aku wisuda berpose dengan Nata dan Vian, Vian yang sedang memberikan aku sebuket bunga mawar dan Nata yang sedang melirik aku dan Vian. Dan ketika diriku sedang memandangi foto itu tiba-tiba….
“Kuggy mau pergi keluar sebentar gak?” ajak Vian
“Kemana Vian?” tanyaku
“Suatu tempat, udah sana kamu ganti baju dulu aku tunggu dibawah ya!” ucap Vian sambil berlari
Entahlah aku merasa bingung tapi yang membuatku lebih bingung mengapa aku langsung menuruti perintah Vian, aku merasa seperti dihipnotis seketika melalui senyum darinya.
“Vian, udah siap nih. Mau kemana sih kita sebenarnya?” tanyaku penasaran
“Adadeh, pokoknya ikut aja. Tapi kamu harus tutup mata dulu” ucap Vian
Aku merasa penasaran setengah mati, tapi aku senang sekaligus nyaman jika berada didekat Vian. Ya Tuhan, apakah perasaan ini masih sama seperti dulu? Masih hanya untuk Vian setelah enam tahun lamanya tak berkomunikasi satu sama lain. Dan ketika Vian membukakan tutup mata dariku ya Tuhan aku sangat………suka kejutan ini. Menikmati hari ulangtahunku hanya berdua dengan Vian dibawah gemerlapnya Menara Eiffel tengah malam. Walaupun aku sering ketempat itu namun kali ini aku merasa tempat itu lebih romantis ya romantis karena ada Vian didekatku.
“Aku sengaja bikin kejutan ini buat kamu gy, semoga kamu suka ya sama kejutan ini” ucap Vian
“Makasih ya buat semua ini Vian, aku sangat suka kejutan ini” jawabku dengan rasa terharu
“Aku boleh nanya gak Vian?” tanyaku
“Boleh, Tanya apa gy?” ucap Vian halus
“Sebenarnya kamu, itu nganggep aku apa?” tanyanku pelan
Semenjak pertanyaan itu keluar dari mulutku, kami berdua hanya bisa diam membisu, melewati Sungai Seine yang seharusnya romantis malah menjadi kaku seperti diam menjaga jarak satu sama lain. Aku menyesal telah bertanya seperti itu..
                                                                                    ***
“Kuggy, aku dan Vian pamit pulang ke Indonesia. Karena masih banyak pekerjaan di Indonesia, aku janji nanti aku akan ke Prancis lagi untuk bertemu sama kamu bareng Vian juga” ucap Nata sedih
“Iya janji ya bakalan kesini lagi! Terimakasih udah kesini bikin kejutan buat aku” ucapku lemah
Sedangkan Vian hanya bisa terdiam kaku, namun aku masih sempat melihat senyum indah yang terukir dari bibir manisnya itu. Ya Tuhan apakah aku masih bisa melihat senyum khas dari Vian? Tolong izinkan aku untuk bertemu dengannya kembali Tuhan. Sungguh aku sangat menyayanginya.
“hati-hati dijalan ya Vian, Nata. Aku sayang kalian” ucapku lirih
                                                                        ***
Aku mencoba membangkitkan tubuhku dari tempat tidurku, namun entah mengapa badanku terasa berbeda dengan sebelumnya, kuingat memang sudah sepekan ini aku terlalu sibuk sehingga aku tidak memperhatikan pola makanku. Aku berniat akan memeriksakannya ke Rumah Sakit terdekat dari apartemenku.
“Dok, sebenarnya saya sakit apa?” tanyaku penasaran
“sebaiknya kamu lihat dikertas ini” ujar dokter muda itu sembari memberikan surat keterangan
Seketika tubuhku terasa lemas ketika melihat nama penyakit yang ada dalam diriku “LEUKIMIA GANAS” aku berfikir mungkin itu ada kesalahan pada ruang laboratoriumnya namun dokter itu mencoba menenangkan jiwaku dan memberi tahu jika aku memang terkena leukemia ganas.
Entahlah pikiranku kosong, bahkan tak jarang tatapan mataku ikut kosong juga. Sampai suatu hari, aku terjatuh lemas saat turun dari tangga, akibat mendengar suara jatuh itu. Orangtuaku membawa diriku kerumah sakit tempat aku memeriksa kesehatanku sekitar delapan bulan yang lalu. Dan akhirnya kedua orangtuaku mengetahui sesuatu yang sudah kututp rapat-rapat itu. Aku sempat koma selama lima hari dan saatku koma, aku merasa seperti Vian berada didekatku dan berbisik agar aku tetap berjuang untuk hidup dan melihat dirinya kembali, entah mengapa jiwaku seperti bersatu kembali. Aku sangat merindukannya.
“Kuggy tolong kamu sadarkan diri aku tak ingin…” bisik Vian
“Vian” ucapku lemah
“Syukurlah kamu sadar juga gy, tunggu aku panggil mamah sama papah kamu sama Nata juga” ucapnya tergesah-gesah
“Gak usah Vian” ucapku sembari mencegah Vian pergi
“Kenapa?” Tanya Vian
Aku hanya diam membisu, dan mengalihkan pembicaraan.
“Gimana kamu selama beberapa hari ini? Kangen ya sama aku?” ucapku bercanda
“Iya aku kangen sama kamu gy, kangen banget malah” jawab Vian singkat
Setelah itu tak ada pembicaraan antara aku dengan Vian, tanpa aku sadari terlalu banyak membisu dan yang terdengar hanya suara jantungku yang tak beraturan, dadaku terasa sesak seperti udara tak memihak kepadaku. Tak lama kemudian Nata pun masuk keruangan tempat aku dirawat.
“gy, kamu udah sadar?” Tanya Nata kaget
“belum sadar Nat, ya udahlah Nata buktinya aku bisa ngomong sama kamu detik ini” jawabku bercanda
“oh iya gara-gara panik jadi otak sedikit lama berfikir nih gy haha” jawabnya sambil tertawa
“Nata, Vian thanks ya kalian udah perhatian sama aku kayak gini” ucapku terharu “aku gak tahu nanti aku akan seperti apa kalau udah gak ada disini, disamping kalian semua” ucapku pelan
“Iya sama-sama gy, udah ah jangan ngomong kayak gitu jadi sedih gini kan” jawab Nata murung
“Iya maaf deh Nata” ucap Kuggy sambil memeluk Nata dengan erat “sumpah aku takut, kalau aku bakal ninggalin kamu sama Vian”bisik Kuggy
“Sebentar ya gy, aku mau ke kamar mandi sebentar” ucap Nata terburu-buru sembari menghapus air matanya
Vian yang dari tadi lebih banyak diam memperhatikan percakapan aku dan Nata, dan tiba-tiba mendekat ke arahku dan…berkata
“Tuhkan Nata jadi nangis gara-gara kamu” ucapnya sambil mengacak rambutku dengan halus
“Yah ngerasa bersalah nih sama Nata” ucapku
“Ih gak usah ngerasa bersalah gitu gy, emang mungkin dianya aja yang terlalu perasa” jawab Vian ngasal
“Masih mending Nata perasa daripada kamu gak pernah peka sedikitpun” jawabku ketus
“Ih kok kamu jadi marah sama aku?” ujar Vian  “menurut aku, status itu gak begitu penting. Yang paling penting buat aku itu cuma kamu gy gak ada yang lain. Je t’aime” ucapnya lagi
“Aku boleh minta tolong gak? Pasti bolehkan? Aku boleh minta kamu beliin aku teh manis gak dikantin rumah sakit?” pintaku agar mengubah topik pembicaraan antara aku dengan Vian.
Detik itu aku merasakan rasa aneh yang terjadi dalam tubuhku, seluruh tubuhku susah untuk bergerak, rasanya tubuhku ini tak akan bisa menyerang penyakit yang menyelimuti tubuhku. Apa yang seharusnya aku lakukan saat ini? Melawan penyakit ini? Kurasa tidak mungkin karna penyakit ku ini terlalu ganas dalam menggerogoti saraf-saraf tubuhku. Apa haruskah aku diam saja dan membiarkan penyakit ini leluasa menyerang tubuhku? Lalu, bagaimana dengan Mamah, Papah, Nata dan Vian? Mungkin, aku terlalu egois berharap Tuhan memperpanjangkan sisa hidupku, tapi aku tahu diri kok. Tuhan itu sayang sama aku, Tuhan itu gak mau kalau aku tersiksa lama-lama disini, yang terus-menerus memendam perasaan ini tanpa sesuatu kejelasan yang pasti.
“Kuggy, ini teh manis pesanan kamu” teriak Vian saat menutup pintu kamar tersebut.
Tak lama kemudian terdengar suara pecahan gelas yang tadi dipegang oleh Vian. Mendengar suara pecahan gelas, mamah dan papah Kuggy segera menuju ruang Kuggy dirawat. Karena kedua orang tua Kuggy yang baru sampai di rumah sakit semenjak mereka pulang beberapa jam untuk membersihkan diri mereka. Tak lama kemudian, terdengar suara isak tangisan dalam ruangan Kuggy dirawat, hujan yang mengguyur kota Paris tersebut seolah ikut bersedih, karena Kuggy secepat itu meninggalkan Mamah, Papah, Nata, dan Vian.
“Udah mah, Kuggy udah tenang disana. Kuggy gak mau lihat Mamah seperti ini” ucap Papah dengan menguatkan hati Mamah Kuggy
                                                                        ***
Semenjak kejadian itu, Vian dan Nata menjadi lebih pendiam dari biasanya. Entahlah, mungkin mereka memang merasa kehilangan sekali satu-satunya orang yang membawa keceriaan dalam persahabatan mereka lebih dahulu meninggalkan mereka, tapi mereka tak tahu akan menyalahkan siapa? Takdir? Mereka tak akan bisa menunda takdir terhadap diri seseorang. Tiba-tiba Vian tersadar dari lamunannya yang sedaritadi membayangkan senyum manis yang Kuggy berikan kepadanya setiap saat. Dan Vian memeriksa handphonenya ternyata ada pesan masuk.
“ From : Mamah Kuggy
Vian, kamu bisa ke rumah gak? Tadi tante menemukan buku yang didalamnya ada tulisan untuk kamu, tante harap kamu bisa ke rumah sekarang juga”
                                                                        ***
Sesampainya Vian didepan rumah Kuggy, tanpa berpikir panjang Vian langsung mengetuk pintu rumah Kuggy.
“Oh Vian, silahkan masuk” ucap Mamah Kuggy dengan ramah
“Iya tante makasih” jawab Vian sopan
Mamah Kuggy langsung menyuruh Vian masuk kedalam kamar Kuggy. Terasa aneh jika berada disini tanpa Kuggy, kamar ini menjadi sunyi dan sepi sekali. Sesekali Vian merasakan jika Kuggy sedang duduk manis disampingnya, memperhatikan dirinya. Tanpa menunggu lama, Vian mengambil buku, entahlah Vian tak begitu mengerti dengan buku itu. Namun, perlahan-lahan dia mulai membuka buku tersebut, dan dihalaman pertama ada sebuah tulisan yang tertulis dengan rapih yang bertuliskan
“ Maafkan aku, karena aku telah menjadi wanita pengecut yang hanya berani mengungkapkan semua perasaan dihatiku ini melalui tulisan, karena hanya dengan itulah aku mampu mengumpulkan semua perasaan yang ada untukmu Alvian Aldo Prakasa”
Baru halaman pertama dibuka rasanya membuat jantungku ini berdebar-debar. Aku seperti tak ingin membuka halaman berikutnya, namun apadaya tingkat penasaranku melampaui dasar. Dan ku buka halama kedua, dan masih sama yang kutemukan hanya tulisan, namun tulisannya berbeda, dihalaman kedua tersebut tertulis tulisan
“ Aku ingin kau tahu, bahwa aku mensyukuri hari aku mengenalmu. Aku juga ingin berterima kasih atas semua yang sudah kau lakukan untukku. Rasanya semua terjadi begitu cepat, kita berkenalan lalu tiba-tiba aku merasakan perasaan aneh. Setiap hari rasanya berbeda dan tak lagi sama. Kamu hadir membawa banyak perubahan dalam hari-hariku. Hitam dan putih menjadi lebih berwarna ketika sosokmu hadir mengisi ruang-ruang kosong dihatiku. Tak ada percakapan yang biasa, seakan-akan semua begitu ajaib dan luar biasa. Entahlah, perasaan ini tumbuh melebihi batas yang ku tau. Untuk kamu pemilik plat motor bernomor F 2605 NL”
Tiba-tiba Vian merasakan sesuatu yang aneh, tubuhnya seperti terguncang gempa hebat, tubuhnya lemah membaca situ, namun Vian tetap memaksakan untuk membuka halam ketiga dari buku tersebut dan bertuliskan
“ Aku menjadi takut untuk kehilanganmu. Siksaan itu datang ketika kamu tak berada disampingku. Aku sulit untuk jauh darimu, aku membutuhkanmu seperti aku membutuhkan oksigen. Salahkah jika aku selalu menomorsatukan dirimu?
Tapi…entah mengapa sikapmu tak sama seperti sikapku, perhatianmu tak sedalam perhatianku untukmu. Berdosakah aku jika terlalu sering menjatuhkan air mataku ini untukmu? Adakah kesalahan diantara aku dan kamu? Apakah kamu tak merasakan yang juga aku rasakan?
Kamu mungkin belum terlalu paham dengan perasaanku, karena kamu memang tak pernah sibuk memikirkanku. Semuanya jauh dari harapanku selama ini. Mungkin aku yang terlalu banyak berharap. Akulah yang tak menyadari letakmu yang sangat jauh dari genggaman tanganku. Akulah yang bodoh! Akulah yang salah!”
Vian merasa bersalah, hatinya seperti digoreskan oleh benda tajam. Vian  tak menyadari gadis itu memberikan perhatian lebih, hanya saja dirinya yang tak mampu menyadari semua itu. Dia membuka halaman selanjutnya, dan menemukan….
Sebuah foto, ya foto itu ketika mereka pergi ke Dunia Fantasi Ancol sekitar tujuh tahun yang lalu, namun foto itu masih tersimpan rapih. Dibawahnya ada tulisan
“Kamu ingat gak saat itu? Aku rindu masa itu, ketika aku di Paris yang jauh dari kamu dan Nata aku selalu memperhatikan foto itu dan tak jarang air mataku jatuh difoto itu. Kapan ya kita bisa kayak gitu lagi?”
Ya Tuhan, aku tak sanggup membacanya (ucap Vian yang tak sadar air matanya terlah terjatuh deras dipipinya). Segera dia membuka halaman berikutnya
“Vian, mungkin aku udah gak ada disamping kamu saat kamu buka buku ini, tapi percayalah aku tahu semua yang terjadi padamu. Aku tak ingin kamu menangis, jika kamu ingin membaca halaman berikutnya, kamu harus menghapus air matamu dahulu, karena aku tak ingin ada kesedihan dalam buku ini Vian”
Hatinya kembali seperti tergores benda tajam, darimana Kuggy tau kalau aku sedang menangis? (Tanya resah Vian). Sebelum membuka halaman berikutnya, Vian melakukan apa yang diperintahkan Kuggy dihamalan sebelumnya, dan ia mulai membuka halaman berikutnya
“ Hari ini ulang tahunku, dan sesuatu yang tak kusangka Nata dan Vian memberikan kejutan, terlebih saat Vian mengajakku menikmati malam dibawah Menara Eiffel, sangat romantis. Aku sangat berharap dari dulu Vian memberikan perhatian seperti saat ini, namun tak berlangsung lama kami mulai membisu, melewati sungai Seine saja seperti melewati sungai pada umumnya, dimana perhatian kamu seperti saat di bawah Menara Eiffel? Salahkah jika aku mengharapkanmu?”
Tanpa komentar apapun Vian segera membuka halaman berikutnya
“ Kenapa penyakit ini menyerang tubuhku? Mengapa bukan orang lain?! Sepertinya aku cukup frustasi karena aku tahu, diriku sudah terserang penyakit “LEUKIMIA GANAS” apa salahku sehingga Tuhan memberikanku penyakit semacam ini? Apakah Tuhan tidak sayang kepadaku? Aku menjadi hilang kendali, keceriaanku pun menjadi hilang”
Tak sadar, Vian telah meneteskan air matanya kembali dan membuka halaman terakhir dari buku tersebut. Terdapat foto dirinya bersama Kuggy ketika Vian sedang tertidur pulas yang lelah menjagai Kuggy, dan terdapat tulisan
“ Maafkan jika aku merepotkanmu, sungguh sebenarnya aku tak ingin merepotkan siapa-siapa. Maaf juga karena aku telah mengganggu pikiranmu akhir-akhir ini.
Kata sederhana ini kini terasa mengerikan.
Karena kata itu bertentangan dengan kenyataan.
Karena kata itu merujuk pada mimpi yang tidak akan tercapai.
Segalanya terasa menyenangkan bila kamu ada. Segalanya terasa baik bila kamu ada. Kuharap kamu bisa mulai melihatku. Karena hidupku tanpa dirimu sama sekali bukan hidup. Terima kasih karena telah menemaniku selama ini. Terima kasih karena tetap bersabar denganku walaupun aku cenderung bersikap tidak masuk akal akhir-akhir ini.
Satu-satunya penyesalanku dalam hidup adalah aku tidak bisa bersamamu sekarang dan mengatakan semua ini secara langsung kepadamu. Tapi tolong percayalah padaku ketika kukatakan bahwa aku ingin selalu bersamamu. Percayalah kepadaku ketika kukatakan bahwa aku selalu ingin berada di dekatmu. Dan percayalah kepadaku ketika kukatakan bahwa aku mencintaimu.
Walaupun tidak ada hal lain di dunia ini yang bisa kaupercayai,
percayalah bahwa aku mencintaimu. Sepenuh hatiku
Salam rindu dariku diatas langit kota Paris ini untuk kamu seseorang yang telah mengendalikan hati dan otakku ; Alvian Aldo Prakasa “

                                                                       

Minggu, 21 April 2013

Just For You


I’m not a beautiful girl, I’m not a sweet girl, I’m not a cute girl, I’m not a sexy girl, and I’m not a popular girl. I don’t want a label unless it’s “YOUR GIRL!" 

FOR :
الفيان الدو