Maafkan jika air mataku masih
terjatuh untukmu, dimana jemari tanganmu yang dulu mampu menghapuskan air
mataku ini? Aku mencoba memperlihatkan bahwa aku kuat tanpamu namun nyatanya? Aku
masih sangat merindukanmu. Masih terus bertanya bagaimana keadaanmu saat ini? Bahkan
masih sering mengkhawatirkan keadaanmu. Aku tak sanggup dengan jalan takdir
yang mempermainkan hati kita. Aku rindu semua tentang kita, aku rindu kau
genggam jemari tanganku, aku rindu dengan semua candamu. Kini semua tinggal
kenangan yang tersimpan dan melekat dalam memori otakku. Aku dan kamu memang
ditakdirkan tidak untuk bersama. Kamu dan aku dulu sempat dipertemukan dalam
keindahan dunia, namun Tuhan telah mempersiapkan takdir kita yaitu berpisah
mungkin itulah yang terbaik. Takdir seperti mempermainkan kita bagai boneka. Kalau
kita dipertemukan dalam keindahan dunia mengapa harus dipisahkan? Bukankah yang
telah bersatu tak selamanya harus berpisah? Sungguh jika aku mampu mengubah
jalan takdir semau kehendakku, aku ingin
takdir mempersatukan kita sampai maut memisahkan kita. Aku benci perpisahan! Mengapa
saat ku telah memberi rasa sayangku untukmu, namun kamu dengan mudahnya
menghilang bagai ditelan oleh bumi. Aku yang bersalah karena hatiku terlalu
peka kepadamu sedangkan kamu? Apa kamu mengerti rasa sakit yang sedang aku
alami saat ini? Kamu mengatakan bahwa “aku masih sangat sayang sama kamu” tapi
kamu juga mengatakan hal yang sama terhadap perempuan lain. Aku dan kamu memang
tak akan mungkin bisa bersama-sama kembali, namun mengapa secepat ini kamu
dapat melupakan dan mendapatkan pengganti diriku? Aku disini tak mampu
melupakan dirimu, apakah kamu dapat merasakan itu? Mengapa kau hanya diam? Apa kau
benar-benar mencintai dia? Kau senang melihat sayap-sayapku patah karenamu? Mengapa
kini semua berubah secepat ini? Namun sayang aku ke kamu gak bakalan berubah
secepat kamu. Sayang aku buat kamu selalu ada entah hari ini, besok, lusa, atau
sampai selamanya. Kamu masih ada disini *nunjuk hati aku* :’)